Kamis, 20 Januari 2011

implementasi kurikulum PAI

A. PENDAHULUAN

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan, bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Dalam Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional, menyebutkan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dari generasi tua untuk mengembangkan potensi yang dimiliki generasi muda yang mencakup pengetahuan, pengalaman, kecakapan serta ketrampilan untuk mempersiapkan mereka agar dapat menjalani fungsi hidupnya serta mampu bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas yang memiliki kemampuan intelektual tinggi serta mempunyai kepribadian yang baik.
Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran yang wajib diajarkan setiap jenjang pendidikan, yaitu mulai pendidikan dasar sampai keperguruan tinggi, hal ini sesuai dengan UU RI No. 2 Tahun 1989 pada bab IX pasal 39 ayat 2 yaitu isi kurikulum setiap jenis jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat :
1. Pendidikan Pancasila.
2. Pendidikan agama.
3. Pendidikan kewarganegaraan.
Pendidikan agama mengemban amanat sekaligus, yaitu bidang agama dan bidang pendidikan, di bidang pendidikan, pendidikan agama di sekolah merupakan bagian integral dari program pendidikan dan pengajaran pada setiap jenjang dan jenis pendidikan untuk mencapai tujuan nasional.
Hal ini sesuai dengan ungkapan M. Arifin yang menyatakan pendidikan adalah sebagai suatu bidang studi yang tidak dapat dipisahkan dari bidang studi lainnya, karena bidang studi tersebut secara keseluruhan berfungsi menyempurnakan atau menunjang tercapainya tujuan umum pendidikan nasional.
Pendidikan agama diharapkan menjadi dasar pendidikan umum, ternyata dikesampingkan dengan lebih mementingkan pendidikan umum. Tantangan inilah yang mendorong untuk diadakan pembenahan sistem pengajaran dan pembaharuan kurikulum pendidikan Islam pada pendidikan sekolah.
Tujuan ini berkaitan dengan komponen-komponen lainnya dalam kurikulum yaitu: materi, metode dan evaluasi. Namun demikian keberhasilan PAI di sekolah sangat tergantung pada para pelakunya, terutama guru dan siswanya. Proses Pendidikan Agama Islam jalur sekolah berkaitan erat dengan komponen-komponen di atas, secara formal, semua komponen itu telah dilaksanakan sesuai dengan tuntutan kurikulum dan telah banyak mendapat perhatian dari kalangan para pendidik dan para pakar pendidikan, misalnya dengan penataran metode mengajar, penggunaan media mengajar, lembar kerja siswa dan lainnya. Namun demikian faktor-faktor yang berkaitan dengan pelakunya (SDM), seperti faktor psikologis, sosiologis dan ekonomi siswa, khususnya kurang mendapat perhatian dalam meningkatkan kualitas Pendidikan Agama Islam.
Sementara itu bermunculan isu-isu tentang kegagalan implementasi kurikulum PAI secara umum, yang hanya didasarkan kepada kenyataan tentang perilaku siswa yang menyimpang tanpa diketahui faktor penyebab yang sebenarnya yang didasarkan pada hasil temuan ilmiah.
Isu lain menyatakan bahwa Pendidikan Agama Islam masih banyak yang belum terpecahkan, diantaranya Pendidikan Agama Islam di sekolah itu belum mencerminkan tingkat mendidik dan menghayati ajaran agama. Pada agama belum mampu mencetak manusia muslim yang terpantul pada cara berpikir, bersikap dan tingkah laku anak didik. Di samping itu Pendidikan Agama Islam masih lemah sistem dan metodenya, untuk itu perlu ditata terus-menerus agar pendidikan tersebut bisa mewujudkan anak didik yang agamis. Dalam prosesnya dimana guru dalam memberikan materi, anak didik banyak yang tidak memperhatikan bahkan bergurau sendiri, hal ini dimungkinkan karena metode yang digunakan guru kurang pas dengan kebutuhan dan minat anak didik.
B. ANALISIS

Implementasi program pembelajaran siswa dalam bentuk KBM di kelas dapat diklasifikasikan menjadi perencanaan pengajaran, pelaksanaan KBM dalam kelas (mulai awal, tahap kegiatan inti, dan tahap kegiatan akhir), baik berupa tindak lanjut, post test dan penutup) dan evaluasi hasil belajar siswa.
1. Perencanaan KBM
Persiapan pengajar yang dilakukan oleh guru PAI itu alangkah baiknya menggunakan RPP sebagai acuan perencanaan KBM dalam setiap pelaksanaan pembelajaran agar materi yang diajarkan sesuai dengan tujuan apa yang kita inginkan. RPP bukan hanya sebagai dokumen saja ataupun RPP hanya sebagai formalitas yang dapat digunakan guru sebagai pendekatan untuk melakukan pembelajaran di dalam kelas, mengingat kenyataan suasana pembelajaran seringkali bersifat situasional atau kondisional.
2. Pelaksanaan KBM
Pelaksanaan KBM dapat dibedakan menjadi kegiatan awal atau pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan akhir (tindak lanjut post test dan penutup). Dengan alokasi waktu yang digunakan untuk pelaksanaan KBM adalah 20%, 60%, 20% berturut-turut untuk kegiatan awal, inti dan akhir.
a. Kegiatan awal atau pendahuluan
Tidak semua guru melaksanakan kegiatan awal seperti yang direncanakan terutama yang menyangkut alokasi waktunya. Dalam kegiatan awal ini mempunyai bentuk yang berbeda-beda, ada yang sesuai dengan rencana alokasi waktu, dan ada yang melampaui batas waktu dan ada juga yang kurang dari alokasi waktu yang direncanakan.
Dalam kegiatan awal ini, selain mengucapkan salam dan mengabsen atau mengecek kehadiran siswa, juga sebagian guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang pelajaran sebelumnya atau kadang untuk menjajagi pelajaran yang akan disampaikan, namun ada sebagian guru yang setelah mengulang secara konseptual materi pelajaran sebelumnya dan langsung membuka pelajaran dengan menginformasikan poin-poin yang akan diajarkan agar siswa mampu menghidupkan respon dan gairah siswa dalam mengikuti pelajaran, baik yang bersifat teori dalam kelas maupun yang bersifat praktek.
b. Kegiatan inti
Aspek-aspek ini minimal meliputi strategi pembelajaran siswa, metode-metode pembelajaran, dan penggunaan alat, media dan sumber belajar serta penyesuaian rencana KBM dengan pelaksanaan di dalam kelas.
Penggunaan strategi atau pendekatan pembelajaran siswa pada umumnya diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran PAI, yakni membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa. Strategi dan pendekatan pembelajaran siswa yang diterapkan guru khususnya dalam pelaksanaan KBM di dalam kelas, umumnya merupakan variasi dari beberapa pendekatan. Variasi strategi atau pendekatan dapat dilihat dari variasi metode-metode pembelajaran siswa.
c. Kegiatan akhir
Kegiatan akhir yang dilaksanakan guru dan siswa di dalam kelas, sebelum penutupan atau do’a bersama bila pada jam pelajaran terakhir, biasanya dimanfaatkan untuk melakukan post-post (biasanya berbentuk lesan dengan prosedur essay untuk mengetahui sejauhmana penguasaan siswa dalam materi tersebut.
Dalam hal ini guru kadang-kadang untuk mengisi tindak lanjut dengan memberi kesempatan pada siswa menanyakan hal-hal yang belum jelas dipahami. Selain itu, adakalanya guru menegaskan kembali materi pelajaran maupun kesimpulan dari pelajaran yang bersangkutan.
3. Penilaian sebagai hasil belajar siswa dalam implementasi kurikulum KBM di Kelas
Penilaian guru terhadap hasil belajar siswa sebagai dampak dari implementasi KBM di kelas tentang kurikulum PAI khsususnya dalam menilai peningkatan keimanan dan ketaqwaan pada siswa dapat dibedakan menjadi penilaian terhadap kegiatan keagamaan, aspek tingkah laku atau moral, dan kemajuan belajar serta penilaian terhadap hasil belajar siswa dalam KBM. Yaitu selain menyelenggarakan ulangan-ulangan formatif, guru juga mengadakan evaluasi sumatif, yaitu penilaian yang dilakukan pada tengah atau akhir tahun pelajaran.
4. Faktor guru dalam implementasi kurikulum PAI
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa guru adalah salah satu komponen yang menentukan keberhasilan kurikulum. Keberhasilan suatu termasuk material fasilitas, dan sarana yang memadai serta dukungan suasana lingkungan yang kondusif, kurikulum yang tertulis dinyatakan dalam dokumen kurikulum kurang dipahami guru sehingga dalam implementasinya belum berhasil, menurut Nana Syaodih hal ini terjadi karen disebabkan oleh empat kemungkinan.
a. Karena guru-guru kurang senang atau kurang menguasai tersebut, mereka lebih senang menggunakan kurikulum lama atau kurikulum “sendiri” yang dipandang lebih baik.
b. Guru-guru tidak menggunakan kurikulum sebagai acuhan pengajaran
c. Karena beberapa keterbatasan baik kemampuan guru, buku sumber, atau alat bantu mengajar, fasilitas dan sarana pendidikan.
d. Memang ada beberapa kelemahan dalam dokumen kurikulum, mungkin dalam sebaran mata pelajaran, sistematika dan kelengkapan isi, konsep atau dalam proses pembelajaran sehingga mendorong guru-guru mengembangkan kurikulum sendiri.
Sebaliknya dijelaskan bahwa mutu pendidikan tidak seharusnya ditumpahkan pada kelemahan dokumen kurikulum, jika kelemahan kurikulum terletak pada aspek implementasinya, khususnya jika pelaksanaan pengajaran tidak sesuai dengan rancangan, maka Nana Syaodih memperkirakan bahwa “Kelemahan tersebut kemungkinan dilatar belakangi dan diperberat oleh persepsi, kemampuan, motivasi dan unjuk kerja guru yang kurang mendukung (dan ini mungkin ada kaitannya dengan kondisi sosial ekonomi guru), karena keterbatasan buku sumber, alat praktek, fasilitas, sarana dan prasarana dan biaya pendidikan, manajemen yang tiak efektif, iklim sekolah dan suasana yang tidak mendukung, disiplin yang kurang dan sebagainya”.
Akhirnya dapat dinyatakan bahwa meskipun guru memahami tuntutan implementasi kurikulum, tetap banyak faktor yang tidak kalah pentingnya. Salah satu yang sangat mempengaruhi keberhasilan inovasi kurikulum adalah implementasinya di lapangan khususnya implementasi kurikulum dalam bentuk KBM di kelas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar